Cerita Inspirasi

Oleh Khoirunisa Prawita Sari (F34100016)

Laskar 4 (Pattimura)

Guru Inspirasiku

Aku sangat terkesan dengan guruku. Namanya Ibu Tine Maria Kuswati. Menurutku dia adalah orang yang bijak, dan selalu menjadi inspirasi untuk semua orang. Saat itu, hari – hari terakhir menjelang pembagian ijazah, aku datang ke sekolah, menuju ruang BK untuk menyerahkan berkas – berkas akademis. Dan disitu aku bertemu bu Tine. Aku sebenarnya tidak menyangka juga akan bertemu dengannya di ruangan itu karena bu Tine tidak mengajar BK melainkan mata pelajaran kimia. Setelah bersalaman dengan beliau, kami pun mengobrol sedikit.

Aku selalu mengingat beliau. Beliau adalah guru yang sangat berdedikasi. Beliau selalu memperhatikan murid – muridnya. Beliau selalu ingin mengenal muridnya. Beliau bukan hanya sekedar pengajar di kelas, melainkan juga teman bagi kami. Sebagai contoh baktinya, Bu Tine juga yang mengumpulkan para alumni untuk berpartisipasi menyumbang dana untuk diberikan kepada siswa – siswi yang berprestasi dan membutuhkan, juga untuk pembelian sarana dan prasarana sekolah yang rusak atau kurang. Aku pun salah satu siswa yang mendapatkan beasiswa itu. Untuk mendapatkan beasiswa itu, aku harus mempunyai semacam target nilai yang harus ku raih. Saat itu kepercayaan diriku kurang. Tetapi beliau menyemangatiku, berkata bahwa aku pasti bisa. Ia bahkan menyuruhku untuk menulis target yang tinggi untuk hampir semua mata pelajaran yang disyaratkan. Beliau berkata “ Sebuah kesuksesan bukan dinilai dari hasilnya, melainkan dari proses saat kita berupaya untuk menggapainya, jadi jangan takut untuk bermimpi. Selama kita berusaha sekuat tenaga, mengeluarkan segala yang kita punya dan selalu berdo’a, insyaAllah, kita akan meraih kesuksesan itu. Walaupun hasilnya tidak sesuai harapan kita, kita pun akan merasa lega dan bangga karena kita sudah berjuang semaksimal mungkin. Jangan pernah takut akan gagal, karena itu adalah bagian dari proses. Toh, orang paling kaya di dunia ini juga pernah gagal.” Sejak saat itu, aku pun belajar dengan giat untuk mencapai target tersebut, dan alhamdulillah hasilnya tidak beda jauh dengan yang ku harapkan. Aku pun mengucap syukur kepada Allah SWT, dan kepada beliau juga pada para alumni yang dermawan karena telah memberikan beasiswa ini kepada aku dan sejumlah siswa lainnya.

Sewaktu di ruang BK waktu itu, beliau juga memberikan nasihat kepadaku tentang gambaran kehidupan. Beliau berkata bahwa sebaik – baiknya orang adalah orang yang menaruh tangannya di atas atau orang yang suka memberi. Jangan merasa kita selalu tidak mampu dan ingin di bantu. Banyak orang yang mampu tetapi berpura – pura tidak mampu. Mereka adalah orang – orang yang tidak mau berusaha dan telah membohongi dirinya sendiri, bahkan mereka juga bisa merugikan orang lain. Orang yang benar – benar tidak mampu bisa kehilangan ‘jatah’ mereka hanya karena kita yang berpura – pura tidak mampu. Selama kita mampu, kita harus mandiri malah kalau bisa kita mulai memberi. Kata – kata terakhir beliau sebelum aku meninggalkan SMAN ku tercinta. Beliau kini sudah tidak mengajar sebagai guru di SMAN itu, melainkan menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi negeri terkenal.

Kata – kata beliau masih tersimpan di memori otakku dan selalu kujadikan pedoman. Aku yakin, bukan hanya aku yang telah terinspirasi oleh beliau, melainkan murid – muridnya yang lain. Dan insyaAllah, kata – katanya tidak hanya sekedar tersimpan, tetapi juga ku amalkan di kehidupan sehari – hari.

Cerita Inspirasi Diri Sendiri

Oleh Khoirunisa Prawita Sari (F34100016)

Laskar 4 (Pattimura)

Menjadi Orang yang Lebih Berguna

Kadang kadang, kita sering kali lupa bahwa roda kehidupan terus berputar.

Kita tidak selalu berada di atas, juga tidak selalu berada di bawah.

Itu adalah kalimat yang selalu ku tanamkan dibenakku. Beberapa bulan yang lalu, saat liburan panjang setelah Ujian Akhir Nasional, aku dan keluarga memutuskan mudik ke kampung halaman. Kami diajak oleh budeku mengunjungi kampung halaman di Susuk, Purworejo yang sama sekali belum pernah kami datangi. Kebetulan keluarga besar bude juga sedang memperingati hari ke – 1000 meninggalnya Ibunda bude tercinta.

Mengenai keluargaku, Kami bukan orang kaya, juga bukan orang miskin. Kami orang sederhana. Ayahku bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, dan ibu tidak bekerja. Andai saja dulu nenek tidak memberikan warisan rumah kepada anak semata wayangnya, atau andai saja ayah mempunyai banyak saudara kandung sehingga rumah yang sekarang kami tempati harus dijual dan dibagi rata, aku tidak yakin kami sekeluarga masih bisa tinggal di Jakarta, kota yang serba mahal sampai – sampai buang air pun bayar. Kami pasti akan tinggal di pinggiran kota yang biaya hidupnya relatif murah dan hidup sambil mengeredit rumah.

“Banyak anak banyak rejeki”.

Prinsip bodoh untuk hidup di kota. Kini aku tahu mengapa pemerintah menggalakkan program KB atau Keluarga Berencana.

Aku anak pertama dari empat bersaudara. Dan artinya, ayahku harus menanggung biaya pendidikan untuk 4 orang anak, biaya yang besar. Biaya gila untuk hanya sekedar mendapatkan ilmu dan gelar, biaya untuk merangkak meraih hidup yang lebih baik. Sekarang umur ayahku sudah hampir 50 tahun, sedangkan anak pertamanya baru masuk perguruan tinggi. Anak keduanya baru masuk sekolah menengah kejuruan, anak ketiga dan keempatnya masih menduduki bangku sekolah dasar. Bagaimana ayahku membiayai pendidikan saudara – saudaraku nanti?

Tentunya aku yang menanggung itu semua. Aku harus berhasil. Aku harus sukses.

Untungnya saudara – saudara sepupu ayah semuanya adalah orang  – orang berada dan sangat baik. Mereka suka mengirimi ayahku sejumlah uang setahun sekali yang alhamdulillah dapat membantu membiayai uang pendidikan spp-ku untuk beberapa bulan saat sekolah menengah. Setiap hari raya, saat kami berkunjung ke rumah saudara – saudara ayah untuk bermaaf – maafan dan bersilaturahmi, mereka selalu menyelipkan amplop di tangan ayah atau ibu, atau juga di tanganku.

Dan saat itu juga, setiap kali aku melihatnya.. hatiku selalu berdesir.

Mengucap rasa syukur pada Allah karena masih membukakan pintu rizki pada kami.

Tetapi Rasanya ingin menangis melihat nasib keluargaku.

Rasanya ingin berteriak karena malu selalu dibantu. Selalu tanganku yang berada dibawah. Bagaimana sih rasanya memberi..?

Ya Allah, aku ingin merasakannya juga.

Walaupun begitu kami masih kesulitan menutupi biaya pendidikanku dan adikku, yang saat itu baru ingin masuk Perguruan tinggi dan Sekolah menengah. Ayahku terpaksa meminjam uang di Bank untuk menutupi biaya – biaya itu dengan jaminan gajinya tiap bulan di potong selama 2 tahun. Ayahku tidak menyesal, dan beliau tidak pernah mengeluh. Ia bahagia akhirnya aku, anak pertamanya, berhasil memasuki perguruan tinggi negeri. Cita – cita ayahku sedari dulu yang tak pernah bisa ia gapai sampai sekarang.

Aku pun turut bahagia, walaupun ini tidak sepenuhnya ku inginkan. Cita – citaku dari dulu ingin menjadi dokter, atau sarjana teknik sipil. IPB pun tidak terbesit dalam benakku karena aku tidak terlalu menaruh minat pada pertanian. Tetapi banyak orang sukses setelah menuntut ilmu disana, dengan biaya murah. Tidak seperti diperguruan tinggi lainnya yang memakan biaya puluhan juta.

Untuk mendapatkan beasiswa pun sulit, hanya karena status pekerjaan ayahku pegawai negri. Mengapa pemerintah tidak pernah mempertimbangkan tanggungan keluargaku..

Kasihan ayah..

Mengenai pergi ke kampung halaman, untungnya bude membiayai masalah biaya transportasi kami, akhirnya kami bisa melihat dan menginjakkan kaki kami di kampung halaman, susuk tercinta.

Kami menaiki kereta api kelas bisnis selama 9 jam.

Aku menikmati perjalanan sambil mendengarkan musik di mp4 ku, barang elektronik pertama yang ku beli sendiri dengan uang hasil tabunganku. Walaupun sudah berumur 2 tahun dan sudah bolak – balik keluar masuk toko untuk di servis atau di charge, ia masih tetap setia menemaniku belajar, tidur dan merenung mengarungi waktu seperti saat itu.

Perjalanan merambat sangat lama. Baterai mp4-ku hampir habis. Dan kami baru sampai setengah pejalanan.

Kereta berhenti sesaat di suatu lembah hijau, aku mendeskripsikannya begitu. Karena tempat itu sangat hijau, dan berada dekat sawah. Tidak lama kemudian datang berbondong – bondong anak – anak berbaju kumal membawa berbagai macam hasil pertanian; seikat ubi, singkong, bengkoang, talas, dan lain – lain. Terlihat segar dan masih bertanah. Mereka menawarkannya pada kami para penunggang kereta. Mereka terus menjajakan barang daganganya, merayu – rayu kami untuk membeli, sabar walaupun banyak yang pura – pura tidak mendengar atau menyembunyikan mukanya, merasa tidak enak karena tidak berniat membeli.

Aku pun tidak terlalu suka ubi dan semacamnya.

Aku melihat mereka. Mereka, masih anak – anak. Mereka mungkin membantu ayah dan ibu mereka yang mungkin petani untuk menjual hasil panennya. Apakah mereka tidak bersekolah?

Aku sangat penasaran. Aku memutuskan membeli umbi. Aku melambaikan tangan kananku, memanggil salah satu dari mereka yang sedang menjajakan umbi – umbi itu untuk mendekat.

“ adik, beli umbinya..” aku berkata sambil tersenyum.

“ boleh mbak, mau yang mana?” kata anak itu sambil tersengal – sengal setelah berlari menghampiriku.
“ yang itu, ubi merah ya namanya? berapa?” tanyaku.

“ seribu rupiah, mbak.” Kata dia senang, karena ada juga yang membeli jaja’annya.

“ adik kelas berapa?” tanyaku penasaran. Ia terlihat seperti adikku yang duduk di bangku SD.

“ saya ndak sekolah mbak.” Tiba – tiba senyum riangnya menguap, matanya menjadi sendu.

“ lho? Kenapa?”tanyaku semakin penasaran.

“ sekolahnya jauh, di kota. Lagian untuk makan saja kami susah. Saya lebih baik membantu bapak di sawah dan berjualan begini kalo sedang panen.” Katanya.

Hatiku sangat sakit. Ia anak keluarga petani, tidak mengenyam bangku sekolah, tidak berkecukupan. Ia lebih miskin dari pada ku, dari pada keluargaku.

Aku merasa malu.

“ begitu ya dik. Semangat ya. Saya beli ubinya 5.” Kataku memberi sedikit penghiburan dan menyerahkan uang 10 ribu kepadanya.

Ia menyerahkan sebagian ubi di tangannya yang kecil. Ia menggapai – gapai jendela kereta yang tinggi agar plastik berisi ubi itu sampai di tanganku. Aku pun meraihnya.

“ sebentar ya mbak, saya mencari kembaliannya.” Katanya hendak ingin pergi lari mencari kembalian.

“ tunggu, tidak usah dik. Kembaliannya untuk sangumu saja. Terima kasih ya dik..” kataku sambil memancarkan senyum sendu kepadanya. Ia menatapku dalam, kemudian tersenyum.

“ maturnuwun mbak.” Dan ia pun berlalu, menawarkan dagangannya, lagi.

Sejak saat itu pandangan hidupku agak berubah.

Aku sekarang sangat mensyukuri apa yang sekarang ada di diriku. Aku mensyukuri apa yang ada di tubuhku bila mengingat banyak orang cacat dan sakit diluar sana. Aku mensyukuri uang yang diberikan orang tuaku mengingat banyak pengemis dan orang yang hidup dibawah garis kemiskinan diluar sana. Aku mensyukuri pr dan tugasku yang menumpuk mengingat anak itu, anak yang tidak beruntung dan tidak mengenyam pendidikan, tidak seperti aku.

Dan sekarang aku lebih bertekad untuk menjadi orang yang berguna, bukan hanya orang yang sekedar sukses. Yang hanya sukses untuk dirinya sendiri. Aku ingin berguna untuk orang tuaku, keluargaku. Aku ingin membalas budi sanak saudara. Aku ingin tanganku ini lebih banyak memberi. Aku ingin berguna bagi agamaku. Aku mengesampingkan keluhan – keluhanku saat kesulitan memahami pelajaran. Aku harus berjuang. Aku bersyukur dapat kuliah di IPB, Institut Pertanian Bogor. Aku ingin berguna bagi negaraku, negara agraris. Aku, ingin lulus sebagai sarjana pertanian, mengemban tugas memajukan pertanian Indonesia, agar tiada lagi nasib tidak beruntung keluarga petani, nelayan, dan lainnya. Agar tiada lagi nasib anak – anak seperti anak itu.

Aku bersyukur Tuhan menciptakan diriku sebagai diriku. Diriku yang akan selalu berjuang, diriku yang akan menggapai masa depan.